Di Amerika Serikat terkenal lelucon sehari-hari mengenai bola lampu. Misalnya : Berapa banyak pembaca majalah Cosmopolitan (majalah wanita AS yang suguhannya seksi) yang dibutuhkan untuk mengganti bola lampu ? Jawab : Dua orang. Satu mengganti bola lampu dan satunya lagi memperoleh orgasme dengan bola lampu yang lama.
Pertanyaan : Berapa orang filsuf dibutuhkan untuk mengganti bola lampu ? Jawab : Tiga orang. Satu orang mengganti bola lampu dan dua sisanya saling berdebat mengenai apakah bola lampu tersebut eksis atau tidak.
Pertanyaan : Berapa orang pelawak yang dibutuhkan untuk mengganti bola lampu ? Jawab : Hanya seorang. Dirinya tidak suka berbagi sebagai pusat perhatian dengan pelawak lainnya !
Lelucon terakhir ini, hemat saya, relevan dengan isu yang berkembang dalam dunia lawak Indonesia mutakhir saat ini. Banyak pelawak atau pengamat dunia ha-ha-hi-hi di Indonesia tiba-tiba memunculkan isu bahwa dunia lawak Indonesia membutuhkan adanya lembaga pendidikan untuk mencetak pelawak-pelawak generasi baru.
Antara lain pelawak Kirun. Menurutnya seperti dikutip Republika (16/2/2005), pelawak merupakan profesi yang terbilang sangat sulit. Apalagi, kata dia, hingga kini belum ada lembaga pendidikan yang secara khusus mampu melahirkan pelawak.
''Saya merasa di Indonesia ini perlu ada sekolah yang bisa melahirkan pelawak,'' ujarnya dengan mimik serius. Sulitnya melawak dan membuat orang bisa tertawa disadarinya saat Kirun menjadi juri audisi pelawak TPI. ''Bisa gila dan stres menjadi juri untuk menilai para pelawak,'' imbuhnya.
Miing Bagito ketika dikutip Kompas (24/4/2005) berujar, “Kami ini kan engga ada sekolah untuk meningkatkan skill dan knowledge (keterampilan dan pengetahuan). Organisasi itu (PASKI : Persatuan Seniman Komedi Indonesia) nantinya diharapkan menjadi fasilitator untuk meningkatkan sumber daya pelawak”
Pengamat dunia lawak, Darminto M. Soedarmo, mengangankan berdirinya Institut Seni Lawak Indonesia. Dalam artikelnya di Suara Merdeka (5/9/2004), ia menulis, “Pendidikan seni lawak...salah satu tujuannya adalah mengubah mitos, bahwa seni lawak yang semula diyakini tergantung bakat dan anugerah alam, ternyata memiliki anatomi yang dapat dibedah menjadi sebuah sistem atau metodologi, dengan kata lain, dapat dipelajari lewat suatu institusi pendidikan”
Wacana mengenai pentingnya lembaga pendidikan untuk pelawak di Indonesia itu semakin riuh dengan hadirnya tulisan berjudul “Universitas Humor” yang ditulis Mohamad Fahmi di Kompas Jawa Tengah (21/6/2005). Sayang, dirinya nampak belum memiliki kekayaan informasi yang komprehensif guna menunjang usulannya tersebut.
Misalnya, Mendikbud Bambang Sudibyo ia usulkan membuka kampus khusus jurusan Humorologi Indonesia, dengan pertimbangan bahwa kita memiliki banyak maestro pelawak. Siapa maestro yang ia maksudkan ? Bing Slamet, S. Bagyo, Benyamin S, Srimulat, Warkop DKI dan lain-lain. Sebagian besar dari mereka telah meninggal dunia dan tidak mewariskan dokumen tertulis yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan kajian !
Klaim kaliber katak dalam tempurung lain yang ia gulirkan adalah dengan mengatakan bahwa, “jurusan lawak: belum dibuka di muka bumi ini”. Bahkan, katanya, Indonesia akan dijadikan proyek percontohan “Humorologi” di dunia. Sebab ilmu ini, begitu klaim Mohamad Fahmi lagi, belum begitu diminati di berbagai belahan dunia.
Nampak jelas bahwa Mohamad Fahmi belum pernah mengenal nama-nama besar seperti Sigmund Freud yang pada tahun 1905 telah menulis artikel “Jokes and Their Relation to the Unconscious”, Arthur Koestler yang terkenal dengan teori asosiasi ganda (bisosiasi) sebagai formula lawakan dalam buku terkenalnya yang sempat saya temukan di Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia di Rawamangun tahun 1980-an, yaitu The Act of Creations sampai Norman Cousin yang mengaplikasikan humor sebagai terapi. Mohamad Fahmi rupanya juga sangat malas untuk sekadar membuka-buka ensiklopedia.
Sementara itu wartawati masalah hiburan, Tresnawati, dalam tulisannya di Suara Merdeka (1/6/2005) ketika mengevaluasi tayangan reality show Audisi Pelawak TPI (API), menyebutkan bahwa API adalah oase di padang pasir perlawakan Indonesia. Kembali mengutip pendapat Kirun, API disebutnya sebagai upaya mengisi kekosongan sekolah lawak di Indonesia.
Tetapi benarkah diperlukan lembaga pendidikan untuk mencetak pelawak ? Jangan-jangan, seperti isi lelucon tentang bola lampu dan pelawak tadi, usulan tentang sekolah pelawak hanyalah usulan basa-basi. Karena dunia pelawak adalah dunia yang sarat kobaran intrik, rasa iri dan kecemburuan.
Bahkan mungkin mirip perseteruan klasik antarsaudara kandung, sibling rivalry, di mana sukses yang lain akan menerbitkan iri hati atau rasa “makan hati” (terutama yang belum pernah membaca tesis abundance mentality dari Stephen R.Covey) pada diri saudara lainnya.
Usulan itu boleh jadi hanya basa-basi. Apalagi dikaitkan ke masalah praktikal, betapa mendirikan lembaga pendidikan merupakan hal yang teramat rumit. Menimbulkan persoalan tersendiri. Mungkin, dengan berdiri di balik kerumitan ini maka para pelawak yang merasa mapan dewasa ini akan terus merasa aman, karena sulitnya kemunculan saingan yang berpotensi menggerogoti sumber rejeki mereka.
Bagaimana kaderisasi pelawak di luar negeri ? Eko Patrio dikutip Suara Merdeka (14/9/2003), bilang, “saya tak tahu di LN ada sekolah lawak atau tidak”
Sumber sari : http://komedian.blogspot.com/2005_06_01_archive.html
SEKOLAH PELAWAK : MIMPI DI SIANG BOLONG
Minggu, 21 Maret 2010
Diposting oleh
DIKI ZULKARNAIN
di
09.14
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar