ADA DOKTOR, ADA LULUSAN STM

Minggu, 21 Maret 2010

Bill Cosby yang terkenal bermain sebagai tokoh Huxtable dalam serial televisi terkenal “The Cosby Show” senyatanya adalah seorang doktor kependidikan. Steve Martin, yang terakhir bermain dalam film komedi “Cheaper By Dozen”, adalah doktor ilmu filsafat. Komedian muslim Azhar Usman yang oleh koran prestisius The New York Times disebut memiliki humor yang “membunuh”, dan kini terkenal di Amerika Serikat, adalah lulusan master hukum di AS.

Komedian wanita muslim asal Pakistan yang terkenal di Inggris, Shazia Mirza, belajar biokimia di Universitas Manchester. Bruce Vilanch yang tiap tahun mengkreasi lelucon dahsyat untuk pembawa acara penganugerahan Oscar seperti Steve Martin, Billy Crystal, Whoppie Goldberg sampai Chris Rock, semula wartawan hiburan.

Gene Perett, kepala penulis lawakan Bob Hope dan pemenang 3 kali Emmy Award, adalah ahli gambar teknik yang berkarier di perusahaan General Electrics. Almarhum Wahyu Sardono, lulusan FISIP Universitas Indonesia. Miing Bagito dan Doyok, hanya lulusan STM.

Bukti di atas itu sekadar menunjukkan betapa dunia komedi adalah dunia ekspresi kreatif yang terbuka untuk semua insan, tanpa memandang asal-usul pendidikan mereka. Pelbagai latar belakang tersebut justru membuat khasanah dunia komedi menjadi sangat kaya warna dengan keanekaragaman topik sampai gaya.

Merujuk realitas tersebut, maka ide lembaga pendidikan pelawak adalah hal yang redundant, berlebihan. Di luar negeri di mana dunia komedi sudah jadi industri, ajang asah talenta di bidang penulisan humor dilaksanakan dalam mata kuliah penulisan kreatif yang dapat diikuti mahasiswa dari segala jurusan. Atau bagi yang serius dapat mengikuti pelbagai pelatihan jangka pendek, misalnya stand-up dan comedy writing, yang di AS jumlahnya banyak sekali.

Judy Carter yang memiliki Judy Carter’s Comedy Wokshops Productions di California (AS), malah berani menjamin bahwa dengan belajar sendiri selama 26 hari, seseorang sudah siap tampil sebagai stand-up comedian yang andal.

Selama 26 hari itu pelajaran yang harus dilakoni adalah : Hari (1) – Get a Gig : Menentukan Lokasi Pentas Melawak (12 kali sepanjang 26 hari), (2) Belajar Struktur Lelucon- Set Up, (3) Belajar Struktur Lelucon – Punchline, (4) Belajar Dengan Menonton, (5) Hidup Anda Adalah Lelucon, (6) Menulis Premis Autentik, (7) Menulis Topik Autentik, (8) Menserasikan Topik, (9,10 dan 11) Mengolah Lelucon Bersama Mitra Komedi, (12) Mengorganisasikan Set List (Daftar Lelucon), (13) Mempertajam Materi Lawakan, (14) Persiapan Pentas, (15) Gladi Resik, (16) Pementasan, (17) Merayakan Kesuksesan, (18) Menganalisis Pementasan, (19) Pengayaan Materi Lelucon Dengan Peristiwa Aktual, (20) Mempertajam Premis, (21) Mengeksploitasi Topik Yang Hit, (22) Mempertajam Materi Lawakan-Bagian II, (23) Membuang Lawakan Yang Tak Perlu, (24) Persiapan Pementasan Kedua, (25) Pementasan, dan (26) Seheboh Apa Pementasanku Malam Tadi ?

Di antara materi kursus Judy Carter, menurut pendapat saya, maka “mata pelajaran” yang paling sulit bagi calon komedian Indonesia adalah pada bagian menulis. Karena setiap komedian itu haruslah menulis. Merujuk tuntutan tersebut maka almarhum Wahyu Sardono (Dono Warkop DKI) adalah pribadi langka. Ia pelawak dan pernah menjadi akademisi di universitas ternama. Dono juga seorang penulis, baik artikel, buku kumpulan lelucon mau pun novel. Komedian Bill Cosby dan Steve Martin adalah seorang doktor yang juga penulis. Billy Crystal, Chris Rock, George Carlin sampai Joan Rivers, adalah contoh lain para komedian yang juga penulis.

Dono jadi fenomena langka di Indonesia. Para pelawak segenerasinya atau pun penerusnya, seperti Bagito, Patrio sampai Cagur, tidak menonjol sebagai penulis. Melainkan hanya sebagai pembanyol.

Prof. Sudjoko dari ITB pernah berujar bahwa semua yang kita kenal sebagai pelawak, badut, bodor, klontangan, ludruk dan sebagainya adalah pelakon, orang panggung, orang tontonan. Bukan penulis, bukan sastrawan. Dalang juga bukan penulis. Semua tidak mampu menulis. Sungguh pun begitu, bagi masyarakat (kita yang) mohbaca dan mohnulis, itu sama sekali bukan kekurangan, malah wajar, dan sudah semestinya begitu, sebab dari dulu selamanya memang begitu.

Dalam kungkungan budaya kerdil semacam itulah, pentas komedi kita selama ini disajikan. Memang muncul fenomena cerdas, seperti sitkom Bajaj Bajuri yang mengandalkan pada naskah secara ketat, tetapi selebihnya kita tahu sendiri.

Merujuk realitas itu maka kita boleh kuatir, bahwa kontes untuk menyeleksi pelawak semacam Audisi Pelawak TPI (API), akan terancam mengalami kemandekan. Audisi bersangkutan bila hanya kepingin merekrut calon-calon pelawak dan mengingkari pentingnya keberadaan penulis-penulis komedi yang baru, jangan berharap muncul cakrawala baru yang lebih cerah dalam dunia komedi kita !

0 komentar:

free counters Dicky Utama Zulkarnain

Buat Lencana Anda